Entah apa yang ada dalam otak kami waktu itu. Mungkin dan mungkin tapi terjadi, yaitu minum dan mabuk. Hampir setiap hari kami gunakan untuk meninggalkan otak dan hati entah dimana, dan mengisi perut dan otak kami dengan kekonyolan serta racauan tawa yang berasal dari ABIDIN (Anggur merah campur Bir Dingin / Anggur, Bir, Diinjek-injek). Nah, barangkali itulah kami tipikal anak muda gaul yang notabene adalah mahasiswa, mahasiswa perguruan tinggi negeri pula kami itu. Hal tersebut (baca : mabuk), memang sangat erat dengan kalangan anak muda seusia kami. Walaupun banyak juga anak tua yang sampai sekarang masih saja melakukan hal tersebut. Ya mau apalagi coba, masa mau seperti mahasiswa normal yang kerjanya kuliah, ngerjain tugas, makan, pulang ke tempat kost, bikin tugas lagi, makan, tidur, dan esok harinya seperti itu lagi. Dan karena kami merasa bukan mahasiswa normal, kami pun mabuk. Mau itu di tempat kost, taman dago, bahkan di kampus sekalipun tidak jadi halangan bagi kami. Tapi yang paling rutin kami lakukan adalah minum-minum sampai mabuk di tempat kost kami dengan mendengarkan musik dari Britania Raya dan meracau sejadi-jadinya. Namun seiring seringnya kami melakukan hal tersebut, sampai kami menyebutnya sebagai “Ritual”, kami pun sedikit berpikir, sedikit sekali namun merupakan ide yang sangat cerdas bagi masing-masing kami. Kami sampai pada pemikiran dan kehendak untuk membalikkan situasi. Kalau kebanyakan orang mabuk untuk melepas masalah dan selalu berbuat kekonyolan dan kebodohan yang luar biasa, maka kami menginginkan bagaimana caranya mabuk bisa membuat orang jadi pintar dan peka terhadap masalah manusia. Alhasil, kamipun mulai berdiskusi dan membahas segala sesuatu tentang manusia. Tapi tetap mabuk tentunya. Cheers…!!!
Kenapa episode pertama ini dibuka dengan bahasan Miras atau Minuman Keras, karena dari hal tersebutlah saya dan teman-teman membentuk yang namanya kelas malam. Flash back di atas merupakan cikal bakal, embrio, asal mula kelas malam yang rutin kami gelar setiap malam sabtu di tempat saya bersama teman-teman. Dari kelas malam juga lahir pemikiran-pemikiran tentang manusia dan kehidupannya. Berkat kelas malam juga kami berhasil memotivasi teman-teman untuk berpikir secara kritis, cerdas, santai, dan humoris. Memotivasi untuk mendengarkan musik-musik dari kerajaan Inggris seperti Muse, Radiohead, Coldplay, Joy Division, Placebo, Morrisey, dan sejenisnya. Mendorong teman-teman untuk berusaha mencapai impian dan keinginannya. Bahkan tulisan ini pun hasil dari kelas malam tersebut. Memang tidak begitu banyak anggota kami saat ini, mungkin paling banyak hanya sepuluh orang saja. Tapi itu saja sudah cukup melelahkan untuk merangsang otak berpikir dan beradu pemikiran serta paham dengan setiap kepala yang ada di kelas malam. Namun itu semua tertutup dengan pendapat bahwa setiap dari kami adalah guru sekaligus murid dalam waktu yang bersamaan ketika diskusi berlangsung. Dan tentu saja diawali dengan ritual. Cukuplah awal perkenalan untuk kelas malam.***
Minuman keras yang sudah ada sejak manusia berbudaya dan bersejarah (mengenal baca dan tulis), memang merupakan barang yang sangat kontroversi sekali sampai saat ini. Ada yang berpendapat haram, dan ada yang berpendapat tidak haram. Entah Anda di pihak yang mana, namun secara pribadi saya dan teman-teman berpendapat tidak haram selama kita masih dalam kondisi sadar. Konyol memang pendapat itu. Namun, minuman keras juga seperti pistol dan senjata lainnya yang tergantung dari si pemakai untuk dipergunakan seperti apa. Untuk tujuan baik atau buruk. Dipakai dalam kondisi dan situasi seperti apa. Serta ditempat yang seperti apa.
Dalam perkembangannya, minuman keras yang kebanyakan hasil dari fermentasi telah mencapai ratusan jenisnya. Setiap Negara dan daerah di pelosok belahan bumi ini punya minuman keras khasnya masing masing. Mulai dari Red wine, white wine, brandy, vodka, bacardi, jack daniel, smirnoff, crème d’mente, tequila, cocktail, rum, red label, black label, blue label, bir, sake, arak, tuak, ciu dan masih banyak lagi jenisnya. Setiap Negara dan daerah tentu berbeda kebudayaan. Minuman keras juga masuk dalam adab berbudaya di beberapa Negara. Seperti di Jepang, mereka meminum sake karena merupakan bagian dari budayanya. Di Amerika atau Rusia atau Negara-negara Eropa, masyarakatnya tidak pernah lepas dari yang namanya minuman keras. Mulai dari perayaan pesta perkawinan hingga acara kematian seseorang. Di Indonesia sendiri, sejak jaman kerajaan-kerajaan Jawa berkuasa, tuak dan arak selalu menjadi barang wajib untuk berpesta di kerajaan. Jadi, mau tidak mau, diakui atau tidak, minuman keras adalah hasil dari produksi budaya manusia diseluruh belahan bumi ini.
Jika ingin dihadapkan dengan sudut pandang agama, beberapa agama melarang minuman keras. Tetapi beberapa ada juga yang secara tidak langsung tidak melarang. Dalam Islam, tentu saja minuman keras termasuk kedalam barang haram dan tidak boleh di konsumsi. Namun, yang menarik adalah gambaran yang terlukis dalam Kristen yang terdapat pada lukisan The Last Supper, yang menceritakan makan malam terakhir antara Yesus bersama murid-muridnya. Dan dengan jelas bahwa Yesus minum anggur yang dituang dalam cawan suci.
Terlepas dari semua itu, minuman keras yang mengandung alcohol memang mempunyai sisi buruknya sebagai minuman yang memabukkan. Banyak orang yang menjadi ketergantungan terhadap minuman keras, dan disebut Alkoholik. Hingga mereka membutuhkan terapi atau obat-obatan untuk mengurangi ketergantungannya. Minuman keras juga sebenarnya menguntungkan secara finansial bagi Negara yang menjualnya dengan cukai yang sangat tinggi. Ini sisi baiknya untuk Negara. Untuk individu manusia, minuman keras dibutuhkan dikala cuaca dingin atau di tempat seperti kutub. Karena kandungan alkoholnya yang merupakan hasil fermentasi bisa menghangatkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Dengan catatan jika diminum dengan dosis yang tepat.
Minuman keras sampai kapan pun akan tetap menjadi minuman keras dan tidak akan pernah menjadi minuman lunak. Berbagai dampak dan akibat sudah banyak terbukti dari minuman keras, apakah itu sisi buruknya ataupun sisi baiknya. Maka, disini kami berpendapat dan mempunyai pemikiran bahwa minuman keras adalah halal jadah. Halal ketika tidak sampai mabuk, dan jadah jika sampai tidak sadarkan diri. Seperti yang dikatakan oleh Soe Hok Gie “Lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan” (correct me if I wrong, lupa saya kalimatnya :D), maka kami tidak ingin munafik dengan minuman keras yang notabene adalah hasil dari produksi kebudayaan manusia. Terserah pemikiran anda semua untuk membawa perihal minuman keras ini sampai kemana dan ke ranah mana saja. Yang penting dalam bahasan ini, secara garis besar dan sederhana, minuman keras sudah kami suguhkan secara ringan dan mudah untuk anda menanggapinya.***
By Yudi Agustia Darya Winata
“Kelas Malam – 2011 – Carpe Diem”
Liquor is very dangerous for human health , many people who have died because of the liquor that is not stopping his drinking someone
ReplyDeletehttp://www.sanadomino.com
Produsen dan pengedar miras di negara demokrasi ini sejak JAman DahULu hingga Sekarang masih dibolehkan beroperasi. Sampai kapan yaa?? #mikir #Islam
ReplyDeleteClick to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.